KelonJouzu Kenapa Partikel “Wa” Ditulis dengan “Ha” di Bahasa Jepang?

Kenapa Partikel “Wa” Ditulis dengan “Ha” di Bahasa Jepang?

Avatar Rafi Dalirrakan

Bagi yang baru mulai belajar bahasa Jepang, salah satu kebingungan pertama yang muncul biasanya berkaitan dengan sistem penulisan Hiragana. Kita diajarkan bahwa karakter は dibaca sebagai “Ha” (seperti pada kata Hana yang berarti bunga).

Namun, ketika karakter yang sama digunakan sebagai partikel penanda topik dalam kalimat. Misalnya seperti dalam ucapan salam Konnichiwa, dia tiba-tiba harus dibaca sebagai “Wa”.

Mengapa bahasa Jepang mempertahankan ketidakkonsistenan ini? Mengapa tidak menggunakan karakter わ (Wa) saja agar lebih masuk akal? Ini bukan karena aturan tata bahasa yang sembarangan, namun karena fenomena sejarah yang bisa disebut sebagai “fosil bahasa”.

Tulisan は (Ha) yang dibaca “Wa” adalah sisa-sisa dari cara pengucapan orang Jepang kuno yang masih dipertahankan hingga era digital saat ini. Fenomena ini melibatkan perubahan cara kerja mulut manusia dalam melafalkan bunyi selama lebih dari seribu tahun.

Ini dia dua faktor utama yang menyebabkan anomali unik ini.

Daftar isi

The Great Labial Shift

Alasan utama mengapa huruf “Ha” bisa dibaca “Wa” adalah karena pada masa lalu, bunyi huruf tersebut memang berbeda sama sekali. Para ahli linguistik historis menemukan bahwa pada periode Nara (sekitar abad ke-8), baris konsonan yang sekarang kita baca sebagai Ha, Hi, Fu, He, Ho sebenarnya diucapkan dengan bunyi letupan bibir, yaitu Pa, Pi, Pu, Pe, Po. Jadi, kata untuk “Ibu” (Haha) pada masa itu diucapkan Papa.

Seiring berjalannya waktu menuju periode Heian, pengucapan ini melunak menjadi bunyi frikatif (seperti meniup lilin), menjadi Fa, Fi, Fu, Fe, Fo. Bjarke Frellesvig, seorang profesor linguistik Jepang dari Universitas Oxford, mencatat dalam penelitiannya bahwa pergeseran bunyi ini terus berlanjut hingga abad pertengahan, di mana bunyi tersebut mengalami pelunakan lebih lanjut jika posisinya berada di tengah kalimat.

Inilah kuncinya: Partikel gramatikal seperti “wa” selalu menempel di belakang kata benda (misalnya: Watashi-wa). Karena posisinya yang selalu terjepit di antara bunyi lain, pengucapan Fa meluluh dan berubah menjadi bunyi lembut Wa. Meskipun pengucapannya berubah drastis dari abad ke abad (dari Pa ke Fa ke Wa), orang Jepang tetap menulisnya menggunakan huruf aslinya, yaitu は.

Dikecualikan dalam Reformasi Ejaan 1946

Jika pengucapannya sudah berubah, mengapa tulisannya tidak ikut diubah? Sebenarnya, pemerintah Jepang pernah melakukan upaya untuk menyelaraskan tulisan dan bunyi. Setelah Perang Dunia II, tepatnya pada tahun 1946, Kabinet Jepang mengeluarkan instruksi reformasi ejaan yang disebut Gendai Kanazukai (Penggunaan Kana Modern).

Tujuan reformasi ini adalah agar orang Jepang menulis kata-kata persis seperti bunyinya. Sebagai hasil dari aturan ini, banyak kata yang ejaannya diubah. Contohnya, kata “sungai” yang dulunya ditulis Kaha diubah menjadi Kawa (menggunakan huruf わ), dan “wajah” yang ditulis Kahio diubah menjadi Kao.

Namun, para perumus kebijakan memutuskan untuk membuat pengecualian khusus untuk partikel gramatikal, terutama は (Wa), へ (E), dan を (O). Alasannya adalah fungsi visual. Dalam bahasa Jepang yang ditulis tanpa spasi, partikel は berfungsi sebagai penanda visual yang penting bagi mata pembaca untuk mengetahui di mana subjek atau topik kalimat berakhir. Jika partikel ini diubah menjadi わ (Wa), kalimat akan menjadi lebih sulit dipindai secara cepat karena huruf わ juga sering muncul sebagai bagian dari kata benda biasa.

Oleh karena itu, ejaan kuno ini dipertahankan demi kenyamanan membaca, meskipun mengorbankan konsistensi fonetik.