Era iPhone Sudah Lewat, Foxconn Kini Panen Cuan dari AI

Avatar Muhammad Ferdiansyah
Foxconn Stand

Foxconn, perusahaan manufaktur asal Taiwan yang terkenal sebagai perakit perangkat Apple ini menjadi tanda perubahan tren industri teknologi. Perakit ponsel iPhone tersebut baru saja mengumumkan laporan keuangan mereka.

Perusahaan ini membawahi beberapa unit bisnis seperti komputasi awan dan jaringan, ponsel, dan perangkat elektronik lainnya. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, persentase keuntungan dari lini bisnis Foxconn mulai menunjukkan pergeseran.

Mengutip dari Business Insider, banyak analis industri melihat pergeseran ini sebagai tanda berakhirnya dominasi tren mobile. Kini, tren industri mulai mendorong investasi di infrastruktur dan teknologi pendukung untuk mengembangkan kecerdasan buatan (AI) secara keseluruhan.

Cuan dari AI Lebih Besar dari Perakitan iPhone

Foxconn mengungkapkan bahwa divisi komputasi awan dan jaringan mereka berhasil mengambil alih posisi divisi perangkat elektronik pintar konsumer sebagai divisi dengan keuntungan terbesarnya.

Bisnis pembuatan perangkat dan infrastruktur server AI Foxconn meroket dengan pertumbuhan sebesar 47%. Divisi tersebut berhasil meraup pendapatan fantastis sebesar 731,8 miliar Dolar Taiwan (atau sekitar Rp394 triliun) pada kuartal kedua 2025.

Unit usaha tersebut sekarang menjadi penyumbang utama keuntungan Foxconn, dengan porsi 41% dari seluruh pendapatan perusahaan. Tak tanggung-tanggung, perusahaan yang bernama asli “Hon Hai Techology Group” ini mencatatkan keuntungan sebesar 1,79 triliun Dolar Taiwan.

Perakitan iPhone di pabrik Foxconn (Foto: InsideApple)

Di sisi lain, divisi perakitan gawai pintar yang telah lama menjadi andalan perusahaan tersebut mencatatkan pendapatan 634,5 miliar Dolar Taiwan. Kontribusinya terhadap total pendapatan perusahaan anjlok menjadi 35%, jauh menurun dari puncaknya di angka 51% pada tahun 2021.

Banyak tantangan yang harus dilewati, terlebih lagi dengan tak menentunya kebijakan tarif yang diberlakukan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump, pasang surut perang dagang antara AS dan Tiongkok, bahkan ancaman geopolitik di dataran Taiwan oleh Tiongkok.

Lebih dari sekadar tarif, Foxconn kini berada di ujung tanduk fragmentasi rantai pasok global. Tekanan untuk mengurangi ketergantungan pada Tiongkok memaksa Foxconn mempercepat relokasi dan ekspansi pabriknya ke negara-negara lain.

Foxconn Makin Serius Diversifikasi Bisnis

Jauh sebelum pendapatan dari server AI melampaui perakitan iPhone, Foxconn telah lama berupaya melepaskan diri dari citra sebagai “pabrik perakitan gawai”. Dengan laporan tersebut, upaya diversifikasi bisnis Foxconn di luar perakitan gawai telah menuai hasilnya.

Perusahaan tersebut secara agresif memposisikan diri sebagai tulang punggung infrastruktur AI global melalui kemitraan strategis dengan Nvidia. Mereka tidak hanya merakit, tetapi juga menjadi produsen terbesar server AI untuk Nvidia, yang menjadi kuda hitam di balik revolusi AI saat ini. Mereka siap memulai produksi robot humanoid bersama Nvidia pada November 2025.

Di sektor otomotif, ambisi kendaraan listrik mereka juga mulai bertumbuh pesat. Pabrik baterai mereka telah memulai produksi massal untuk pelanggan komersial, sementara mobil penumpang seperti MODEL B dan MODEL C sedang dalam tahap finalisasi sertifikasi untuk segera meluncur di pasaran.

Langkah-langkah ini sejalan dengan visi Chairman perusahaan tersebut, Young Liu, yang ingin mengubah identitas perusahaan. Dalam sebuah pernyataan, Liu menegaskan, “Visi kami di Foxconn adalah bekerja dengan para pemimpin global untuk menciptakan dunia yang saling terhubung dengan teknologi cerdas.”