CEO Microsoft: Stop Sebut AI Sebagai “Slop”!

Avatar Muhammad Ferdiansyah
CEO Microsoft Satya Nadella, menggunakan kaus polo berwarna hitam kebiruan, dengan latar belakang mesh gradient warna-warni, dengan tulisan "SLOP" yang diberi penanda larangan

Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) terus menjadi sorotan dunia dalam beberapa tahun terakhir ini. Namun, belakangan ini, persepsi publik terhadap AI mulai menunjukkan penurunan.

Bahkan, istilah “slop”, sebuah slang atau ungkapan populer yang merujuk pada hasil AI yang dianggap tidak berkualitas, menjadi pemenang “word of the year” oleh Merriam-Webster.

Memasuki tahun 2026, di tengah banyak kritik, meme, dan perdebatan soal kualitas output yang dihasilkan AI, CEO Microsoft Satya Nadella mengajak publik untuk melihat teknologi ini secara lebih bijak.

Ajakan Meninggalkan Istilah “AI Slop”

Melansir Windows Central, dalam tulisannya, Nadella mengajak orang-orang untuk berhenti terjebak pada istilah “AI slop”. Ia menegaskan bahwa 2026 akan menjadi tahun yang penting untuk membedakan antara “spektakel” dan “substansi” dalam pengembangan AI saat ini.

Nadella menyoroti perdebatan antara “slop vs sophistication” yang menurutnya tidak lagi bermanfaat dan berbobot. Nadella meminta masyarakat untuk beralih dari sekadar mengkritik hasil AI, kepada memikirkan pemahaman yang lebih matang tentang bagaimana AI dapat memperkuat kemampuan manusia dalam melakukan kegiatannya.

Dalam tulisan blog terbarunya, Nadella menekankan bahwa dunia kini memasuki fase baru. AI bukan lagi sekadar eksperimen, tetapi masa di mana teknologi ini mulai memasuki fase “difusi yang luas”. Artinya, teknologi ini tidak lagi hanya digunakan oleh kalangan teknis saja, namun juga telah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari miliaran orang di dunia.

Nadella menilai bahwa tantangan terbesar saat ini bukan lagi soal kemampuan model AI, tetapi bagaimana teknologi tersebut memberikan dampak yang nyata dan bertanggung jawab bagi masyarakat dunia.

Ia juga menyinggung bahwa AI harus menjadi “scaffolding” bagi potensi manusia, bukan pengganti manusia. Ia mengangkat konsep baru yang terinspirasi dari ide lama Steve Jobs tentang komputer sebagai “bicycles for the mind”. Nadella ingin AI menjadi versi modern dari konsep tersebut, yakni sebuah alat yang dapat mempercepat kreativitas dan produktivitas manusia.

Meski demikian, kritik terhadap pengembangan AI terus muncul di permukaan publik. Hal ini disebabkan karena banyak pihak menilai bahwa investasi besar-besaran di bidang AI justru berpotensi menggeser peran manusia di dunia kerja.

Realita Kondisi AI Microsoft di 2026

Saat ini, hampir semua produk Microsoft telah memiliki fitur AI. Mulai dari Windows, Microsoft 365, bahkan hingga Xbox. Meskipun Copilot telah terintegrasi di produk-produk Microsoft, banyak pengguna yang merasa tidak terlalu membutuhkan kehadiran Copilot sejauh ini.

Sebagian pengguna menilai implementasi Copilot dirasa masih belum optimal. Salah satu contoh yang viral datang dari akun @vxunderground di X (Twitter). Dalam thread panjangnya, ia menulis bahwa aplikasi Copilot di Windows terasa “laggy” karena seluruh prosesnya bergantung pada server Microsoft, bukan kemampuan hardware lokal.

Ia menjelaskan bahwa meski komputernya memiliki spesifikasi tinggi, dengan 32GB RAM, GPU NVIDIA 2080, dan NVMe 1TB, Copilot tetap berjalan lambat karena semuanya diproses di cloud.

Terlepas dari kritik terhadap kualitas integrasi AI di produk-produk Microsoft, perusahaan teknologi tersebut tetap menjadikan AI sebagai fokus utama mereka pada tahun ini. Nadella dan Microsoft nampaknya ingin mencoba untuk menarik kepercayaan kembali dari masyarakat dunia terhadap arah pengembangan teknologi AI.

Namun, dengan persepsi publik terhadap pengembangan AI yang cenderung menurun, Microsoft harus berjuang sedikit lebih keras, dan benar-benar berbenah untuk memperbaiki hal yang diinginkan oleh pelanggannya.