NewsTeknologi Windows 11 Akhirnya Salip Jumlah Pengguna Windows 10

Windows 11 Akhirnya Salip Jumlah Pengguna Windows 10

Avatar Muhammad Ferdiansyah
a laptop computer sitting on top of a wooden desk

Setelah empat tahun rilis, Windows 11 akhirnya berhasil melampaui pendahulunya dan menjadi sistem operasi desktop Windows dengan pengguna terbanyak di dunia. Pergeseran ini menandai babak baru bagi Microsoft, seiring dengan makin dekatnya akhir masa dukungan untuk Windows 10.

Sistem operasi yang meluncur pada Oktober 2021 ini sejak awal memang menjadi versi Windows yang cukup kontroversial. Sejak awal peluncurannya, banyak pengguna enggan atau bahkan tidak bisa memperbarui perangkat mereka.

Beberapa alasannya mulai dari perubahan antarmuka (UI) yang drastis, persyaratan sistem yang sangat ketat, hingga kekhawatiran mengenai privasi.

Pengguna Windows 11 Perlahan Naik, Tapi Tak Masif

Berdasarkan data dari situs analitik StatCounter per awal Juli 2025, Windows 11 kini menguasai pangsa pasar sebesar 50,88%. Angka ini menunjukkan kenaikan signifikan dari bulan sebelumnya yang hanya menempati posisi 47,83%.

Di sisi lain, pangsa pasar Windows 10 mengalami penurunan menjadi 46,2% dari sebelumnya 48,89%. Uniknya, data tersebut juga merekam jumlah pengguna Windows 7 yang masih aktif, dengan total 2,19 persen pengguna dari total pengguna Windows secara global.

Faktor utama pendorong lonjakan adopsi Windows 11 adalah berakhirnya masa dukungan untuk Windows 10. Microsoft telah menetapkan tanggal 15 Oktober 2025 sebagai batas akhir dukungan teknis serta pembaruan keamanan dan fitur untuk sistem operasi tersebut.

Meskipun demikian, Microsoft menawarkan program Extended Security Updates (ESU) gratis selama satu tahun. Syaratnya, pengguna harus mencadangkan datanya dengan akun Microsoft, atau menukarkan 1000 poin Microsoft Rewards. Awalnya, program ini hanya tersedia sebagai layanan berbayar, pengguna harus merogoh 30 dolar AS.

Banyak Pengguna Masih Enggan Upgrade

Fitur Recall yang kontroversial di kalangan pengguna (Foto: Microsoft)

Meskipun kini dominan, laju pertumbuhan pengguna Windows 11 pada awalnya tidak secepat perkiraan, sangat kontras jika membandingkannya dengan Windows 10 yang hanya butuh waktu sekitar tiga tahun untuk mengambil alih posisi Windows 7 sebagai sistem operasi terpopuler pada masanya.

Beberapa penyebab utama lambatnya adopsi Windows 11 bermula dari persyaratan sistem yang cukup ketat. Perangkat yang ingin menjalankan OS ini wajib memiliki chip Trusted Platform Module (TPM) 2.0 yang hanya tersedia di prosesor generasi baru.

Akibatnya, kebijakan ini memicu tuduhan praktik planned obsolescence (pengusangan terencana). Pengguna merasa terpaksa membuang perangkat keras yang masih berfungsi sempurna hanya karena tidak memenuhi standar artifisial yang Microsoft tetapkan.

Kebijakan ini menjadi semakin kontroversial seiring fokus baru Microsoft pada ranah Akal Imitasi (AI). Mereka cukup getol memasarkan perangkat-perangkat Copilot+ PC kepada pelanggannya. Perangkat ini memiliki chip Neural Processing Unit (NPU) untuk menjalankan fitur-fitur AI yang tidak tersedia pada PC biasa.

Selain itu, dorongan kuat ke arah fitur AI menimbulkan kekhawatiran serius mengenai privasi, terutama setelah Microsoft memperkenalkan fitur “Recall” yang merekam semua aktivitas pengguna di layar. Meskipun fitur ini hanya tersedia di Copilot+ PC, hal ini memicu perdebatan sengit mengenai potensi risiko keamanan data dan privasi pengguna.