NewsTeknologi Heboh Banyak Grup Facebook ‘Hangus’ Tanpa Alasan, Ulah AI?

Heboh Banyak Grup Facebook ‘Hangus’ Tanpa Alasan, Ulah AI?

Avatar Muhammad Ferdiansyah
Facebook app icon with app badges

Selasa (24/6/25) ini, warganet pengguna Facebook sedang ramai membicarakan puluhan grup dengan ribuan anggota mendadak hilang. Para anggota grup tersebut tidak dapat mengakses grup yang mereka ikuti, dan postingan serta komentar mereka juga ikut lenyap.

Beberapa grup Facebook yang lenyap juga bervariasi. Mulai dari komunitas dan forum diskusi teknologi, gaming, dan anime, grup berbagi meme, hingga grup berbagi informasi lokal. Jumlah grup yang mendadak hilang pun juga terus bertambah. Kebanyakan grup tersebut tertahan oleh Facebook tanpa adanya alasan yang jelas.

Pengelola grup-grup tersebut juga mendapati akun pribadi mereka tercekal oleh sistem keamanan Facebook karena adanya “aktivitas mencurigakan”. Beberapa akun pengelola grup tersebut dapat kembali aktif setelah melakukan verifikasi, namun grup-grup yang telah hilang masih belum aktif kembali.

Grup Facebook ‘Hangus’ Tanpa Alasan Jelas

Halaman Facebook Lambe Hardware PC mengumpulkan beberapa pengelola grup yang mendapati grup mereka “hangus”. Hingga saat artikel ini ditulis, postingan tersebut telah memiliki lebih dari 600 komentar.

Beberapa warganet mencurigai adanya upaya penyalahgunaan sistem pelaporan yang tersedia di Facebook. Hal ini memang pernah beberapa kali terjadi sebelumnya dengan maraknya halaman yang menjual jasa pelaporan massal grup. Namun dalam kejadian ini, terdapat dugaan bug sistem pelaporan grup oleh Facebook.

Tak sedikit warganet lainnya berpendapat jika kejadian ini merupakan ulah dari sistem moderasi Meta yang kini sepenuhnya menggunakan Akal Imitasi (AI). Dugaan lainnya juga menyoroti kondisi geopolitik dunia yang semakin memanas mungkin turut menjadi alasan.

Meskipun demikian, belum ada bukti konkret mengenai penyebab hilangnya grup-grup Facebook tersebut.

Heboh Tak Hanya di Facebook

person holding black android smartphone showing Instagram app opened.
Pengguna Instagram, aplikasi yang juga dimiliki oleh Meta turut mengalami masalah serupa. (Foto oleh: Claudio Schwarz on Unsplash)

Beberapa minggu lalu (10/6), TechCrunch melaporkan bahwa banyak pengguna Instagram juga mendapati akun mereka mendadak tercekal oleh sistem Meta. Padahal, pengguna Instagram yang akunnya tercekal tersebut tidak pernah melanggar standar komunitas Meta.

Meta yang merupakan induk dari Facebook, Instagram, dan WhatsApp tidak menyediakan bantuan langsung oleh staf mereka, dan sepenuhnya mengandalkan sistem otomatis. Perusahaan tersebut justru menawarkan layanan “Meta Verified” yang menjanjikan dukungan prioritas.

Beberapa pengguna Facebook mancanegara juga melaporkan kejadian dalam sebuah utas di Reddit. Mereka menyampaikan bahwa grup yang mereka urusi juga lenyap dari Facebook tanpa alasan.

Akibat Terlalu Mengandalkan AI?

Beragam penangguhan akun tanpa sebab tersebut mendorong munculnya sebuah petisi di Change.org yang menuntut Meta untuk bertanggungjawab.

Hingga postingan ini terbit, petisi oleh Brittany WS tersebut telah mendapatkan lebih dari 11 ribu penandatangan. Petisi tersebut memperlihatkan ketergantungan Meta terhadap sistem moderasi AI justru berdampak buruk bagi pengalaman pengguna.

NPR melaporkan bahwa Meta tengah mengubah sistem moderasi mereka secara total. Mereka mulai menggantikan moderator manusia dengan sistem AI. Menurut laporan tersebut, tim internal Meta melihat perubahan ini sebagai hal positif, namun tak sedikit juga yang menganggap perubahan ini ‘berbahaya’.

Awal tahun ini, CEO Meta, Mark Zuckerberg mengumumkan bahwa perusahaannya akan mulai meninggalkan sistem pemeriksa fakta pihak ketiga yang mengandalkan staf pemeriksa fakta, dan beralih ke sistem Community Notes seperti di X/Twitter. Zuckerberg mengumumkan kebijakan tersebut tak lama setelah Donald Trump kembali menjadi Presiden AS untuk periode keduanya.

Meta sendiri mengklaim berkat perubahan kebijakan ini, mereka dapat menurunkan jumlah kesalahan penegakan standar komunitas sebesar 50 persen. Angka ini terhitung mulai dari kuartal ke-empat tahun 2024 hingga kuartal pertama tahun 2025.