Microsoft kembali memecat staf mereka yang berpartisipasi dalam aksi demo menuntut pemutusan kerjasama dengan Israel.
Pemecatan ini telah terjadi berulang kali terhadap staf yang tergabung dalam gerakan “No Azure for Apartheid”. Gerakan ini merupakan aksi solidaritas karyawan perusahaan teknologi tersebut terhadap rakyat Palestina yang tengah mengalami genosida.
Perusahaan yang saat ini tengah gencar dalam bidang AI itu memecat dua orang karyawannya, Riki Fameli dan Anna Hattle. Mereka berdua adalah insinyur perangkat lunak di perusahaan tersebut.
Melansir dari GeekWire, juru bicara awanama Microsoft menyatakan pemecatan ini mereka lakukan karena “pelanggaran berat atas aturan dan kode etik perusahaan” oleh kedua staf tersebut. Namun, raksasa teknologi tersebut menolak memberi pernyataan secara resmi.
Demonstran Duduki Kantor Petinggi Microsoft
Fameli dan Hattle terlibat dalam aksi pendudukan kantor Microsoft di Seattle, Washington, AS. Mereka merupakan bagian dari tujuh orang pendemo yang menduduki “Building 34”. Beberapa mantan staf yang turut berpartisipasi yakni Vaniya Agrawal, dan Joe Lopez, yang juga dipecat karena mendisrupsi beberapa acara Microsoft.
Bangunan tersebut merupakan kantor dari salah satu petinggi Microsoft, Brad Smith. Ia merupakan Wakil Komisaris dan Presiden Microsoft. Smith merupakan seorang pengacara yang turut membantu perusahaan tersebut dalam kasus antitrust mereka di tahun 90-an.
Kelompok yang menduduki gedung dan ruangan kantor milik Smith tersebut menyiarkan aksi mereka yang berlangsung pada Rabu (27/8) lalu di platform Twitch.
Karyawan yang berhasil merangsek masuk ke ruangan kantor milik Brad Smith juga memasang poster kertas yang berisi “panggilan pengadilan” terhadap Smith. Mereka menuding Smith terlibat dalam “kejahatan terhadap kemanusiaan”.
Aksi tersebut sempat berlangsung untuk beberapa saat hingga akhirnya kepolisian setempat mengamankan gedung tersebut dan mengamankan tujuh orang demonstran tersebut.
Protes Semakin Memanas, Bukan Kali Pertama

Menanggapi aksi tersebut, Brad Smith melakukan konferensi pers darurat yang Ia siarkan melalui YouTube, beberapa jam setelah demonstran berhasil diamankan. Smith menyatakan bahwa Microsoft berkomitmen untuk “memastikan kepatuhan kontrak dan kebijakan layanan di Timur Tengah”. Serta akan memastikan layanan yang mereka sediakan sesuai dengan prinsip hak asasi manusia.
Kelompok No Azure for Apartheid telah berulang kali melakukan aksi protes terhadap petinggi Microsoft untuk segera memutuskan kerjasama dengan Israel. Aksi tersebut merupakan salah satu aksi dari sekian banyak wujud demonstrasi yang telah mereka lakukan di bulan ini.
Kurang dari seminggu sebelum aksi tersebut (21/8), beberapa karyawan sempat melakukan aksi serupa. Mereka sempat melakukan beberapa aksi vandalisme dengan menyiram papan nama Microsoft dengan cat berwarna merah darah.
Kelompok tersebut mendirikan beberapa tenda dan membentangkan spanduk bertuliskan “Zona Pembebasan”. Kepolisian Redmond menyebut bahwa aksi tersebut berjalan secara agresif.


